
Pisang Ijo — atau sering disebut Es Pisang Ijo ketika disajikan dingin — merupakan makanan khas dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Hingga kini, asal-usul pastinya belum terdokumentasi secara rinci, namun berbagai sumber mencatat bahwa hidangan ini sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Makassar, ketika masyarakat mulai memadukan pisang, tepung, santan, dan es batu.
Beberapa legenda menuturkan bahwa seorang juru masak bernama Ijo pada masa kerajaan hampir dihukum oleh raja karena gagal memasak, tetapi kemudian menciptakan sajian pisang berbalut hijau yang membuat sang raja senang. Sejak saat itu, hidangan tersebut diberi nama Pisang Ijo.
Selain kisah rakyat tersebut, bahan-bahan dasar Pisang Ijo mencerminkan evolusi kuliner Nusantara:
📚 Referensi: Indonesia Kaya, Suara.com
Warna hijau pada adonan Pisang Ijo bukan sekadar hiasan, melainkan lambang kedamaian, kesejukan, dan keanggunan dalam budaya Bugis-Makassar.
Pewarna alami biasanya berasal dari daun pandan atau daun suji, bahan lokal yang juga memberi aroma khas pada adonan.
Pisang Ijo identik dengan bulan Ramadan.
Hidangan ini menjadi menu takjil favorit masyarakat Makassar karena kesegarannya dan rasa manis lembut yang cocok untuk berbuka puasa.
Selain itu, Pisang Ijo juga kerap disajikan dalam acara keluarga, perayaan, dan pertemuan sosial, menandakan nilai kebersamaan dan keramahan lokal.
Dalam filosofi masyarakat Bugis-Makassar, pohon pisang melambangkan kehidupan yang terus memberi meski telah dipotong, mencerminkan nilai keikhlasan dan keberlanjutan.
Pisang Ijo pun menjadi simbol kreasi sederhana yang bernilai tinggi, warisan budaya kuliner yang turun-temurun dijaga.
Bahan-bahan tradisional Pisang Ijo mencerminkan kekayaan lokal:
Prosesnya sederhana:
Hasilnya adalah kombinasi manis, gurih, dan segar — cita rasa klasik yang telah melewati lintas generasi.
📚 Referensi: Indonesia Kaya
Kini, Pisang Ijo tak hanya dijumpai di Makassar tetapi juga di berbagai kota besar Indonesia.
Berbagai inovasi bermunculan — dari tambahan topping keju, coklat, kacang, hingga modifikasi warna adonan — tanpa menghilangkan ciri khas aslinya.
Popularitas Pisang Ijo mencerminkan kemampuan kuliner tradisional beradaptasi dengan zaman, menjadikannya ikon kuliner Nusantara yang tetap relevan di era modern.
Pisang Ijo bukan sekadar makanan penutup — ia adalah cerita budaya dan sejarah hidup masyarakat Makassar.
Melalui setiap lapisan adonannya, tersimpan simbol kehangatan, tradisi, dan kreativitas lokal.
Menikmati Pisang Ijo berarti turut menghargai warisan kuliner yang lahir dari kearifan dan rasa cinta terhadap bahan-bahan sederhana bumi Sulawesi.
✨ Menikmati seporsi Pisang Ijo berarti menikmati sejarah panjang cita rasa dan budaya Makassar yang terus hidup hingga kini.
Silakan berbagi pendapat Anda tentang artikel ini. Login dengan Facebook untuk berkomentar.